BREAKING NEWS

Rupiah Jebol Rp17.400 per Dolar AS, Pemerintah Singgung Musim Haji dan Dividen Saat Publik Khawatir Ekonomi Tertekan

Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto memberikan keterangan pers di tengah sorotan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Nilai tukar rupiah kembali terpuruk hingga menembus level Rp17.405 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (5/5/2026). Pelemahan ini memicu kekhawatiran publik di tengah tekanan harga kebutuhan pokok, biaya impor, hingga ancaman naiknya beban ekonomi masyarakat.

Di saat nilai tukar rupiah terus melemah, pemerintah menyebut kondisi tersebut dipengaruhi meningkatnya permintaan dolar AS saat musim ibadah haji dan periode pembayaran dividen perusahaan.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengatakan pelemahan mata uang terhadap dolar AS tidak hanya dialami Indonesia, tetapi juga sejumlah negara lain.

“Terkait dengan rupiah, berbagai negara memang mengalami pelemahan terhadap USD dan biasanya juga pada saat ibadah haji, demand terhadap dolar meningkat,” ujar Airlangga dalam konferensi pers pertumbuhan ekonomi triwulan I 2026 di Jakarta.

Pernyataan tersebut langsung menjadi sorotan publik. Sebab, di tengah melemahnya rupiah, masyarakat justru menghadapi potensi kenaikan harga barang impor, tekanan biaya produksi industri, hingga meningkatnya beban utang yang berbasis dolar AS.

Selain faktor musim haji, pemerintah juga menyoroti meningkatnya kebutuhan dolar AS pada kuartal kedua yang bertepatan dengan pembagian dividen perusahaan. Kondisi itu membuat kebutuhan valuta asing melonjak dan memberi tekanan tambahan terhadap rupiah.

Meski demikian, pemerintah memastikan telah menyiapkan langkah antisipasi bersama Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

Salah satu strategi yang disiapkan yakni memperkuat kerja sama swap currency atau pertukaran mata uang dengan sejumlah negara mitra seperti China, Jepang, dan Korea Selatan. Pemerintah juga mulai mendorong pembiayaan dan penerbitan surat utang menggunakan denominasi selain dolar AS seperti yuan dan yen Jepang.

Namun, melemahnya rupiah hingga menembus Rp17.400 per dolar AS tetap memunculkan pertanyaan publik mengenai kekuatan fundamental ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.

Sejumlah pengamat menilai pelemahan rupiah berpotensi berdampak langsung terhadap daya beli masyarakat apabila berlangsung dalam waktu panjang, terutama pada sektor pangan impor, energi, dan industri yang bergantung pada bahan baku luar negeri.

Di media sosial, pergerakan rupiah juga ramai diperbincangkan warganet. Banyak yang khawatir pelemahan mata uang nasional akan berdampak pada kenaikan harga kebutuhan sehari-hari dan biaya hidup masyarakat.

Pemerintah menegaskan kondisi ekonomi nasional masih terkendali. Namun tekanan terhadap rupiah kini menjadi salah satu perhatian utama di tengah meningkatnya kebutuhan dolar AS dan gejolak ekonomi global.

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar