BREAKING NEWS

Begal Merajalela di Lumajang, Jember, dan Probolinggo, Warga Minta Presiden Prabowo Subianto Turun Tangan

Ilustrasi mencekam aksi begal di jalur perbatasan Jawa Timur saat dini hari, menggambarkan ketakutan warga terhadap kriminalitas jalanan yang meningkat.

JAWA TIMUR | Gelombang aksi begal dan pencurian kendaraan bermotor (curanmor) yang terus meningkat di wilayah Lumajang, Jember, dan Probolinggo memicu keresahan luas di tengah masyarakat. Dalam sepekan terakhir awal Mei 2026, sejumlah kasus pembegalan terjadi di jalur nasional hingga pelosok desa kawasan Tapal Kuda Jawa Timur.

Situasi tersebut mendorong masyarakat mengirim surat terbuka kepada Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, agar pemerintah pusat segera mengambil langkah konkret dan tegas untuk memberantas begal, curanmor, jaringan penadah, hingga peredaran motor bodong yang dinilai semakin tak terkendali.

Masyarakat menilai kondisi keamanan di wilayah Tapal Kuda kini berada dalam kondisi darurat kriminalitas jalanan. Warga mengaku mulai takut beraktivitas pada malam hingga dini hari karena aksi begal disebut semakin brutal dan berulang.

“Kriminalitas ini bukan lagi sekadar pencurian biasa. Masyarakat kecil yang bekerja malam dan dini hari menjadi korban paling rentan,” demikian isi surat terbuka warga.

Wilayah Lumajang menjadi salah satu daerah yang paling banyak disorot. Dalam kurun waktu kurang dari satu minggu, beberapa aksi pembegalan dilaporkan terjadi di sejumlah titik rawan.

Kasus paling menyita perhatian publik terjadi pada 4 Mei 2026 di jalur nasional Jember–Lumajang. Seorang ibu penjual sayur dilaporkan meninggal dunia setelah menjadi korban begal saat hendak bekerja pada dini hari.

Sebelumnya, aksi begal juga terjadi di Jalan Raya Kaliboto Kidul, Kecamatan Jatiroto, Lumajang, pada malam 2 Mei 2026 sekitar pukul 20.45 WIB. Kemudian pada 5 Mei 2026 dini hari, pembegalan kembali terjadi di kawasan Jembatan Grobogan dengan pelaku disebut membawa senjata tajam jenis celurit.

Tak hanya Lumajang, aksi kriminal jalanan juga dilaporkan terjadi di Kota Probolinggo. Pada 7 Mei 2026 sekitar pukul 04.41 WIB, aksi begal terjadi di Jalan Sunan Muria. Selain itu, seorang pemuda asal Sindetlami, Probolinggo, dilaporkan menjadi korban pembacokan usai pulang nongkrong malam hari.

Sementara itu, jalur perbatasan Jember–Lumajang disebut warga menjadi salah satu kawasan paling rawan karena sering dijadikan lokasi aksi kejahatan jalanan, terutama saat kondisi jalan sepi pada malam hingga dini hari.

Dalam surat tersebut, masyarakat meminta Presiden Prabowo Subianto memerintahkan Kapolri, Kapolda Jawa Timur, Kapolres, Kapolsek, hingga pemerintah daerah untuk melakukan operasi besar-besaran secara rutin dan menyeluruh di wilayah yang dianggap sebagai zona merah begal dan curanmor.

Warga juga mendesak aparat melakukan penertiban motor bodong tanpa dokumen resmi, memburu jaringan penadah kendaraan curian, memperkuat patroli malam di jalur rawan, hingga meningkatkan pengawasan sampai tingkat desa dan dusun.

Selain itu, masyarakat meminta keterlibatan Babinsa, Bhabinkamtibmas, kepala desa, dan kepala dusun untuk membantu pendataan kendaraan warga serta melaporkan aktivitas mencurigakan di lingkungan masing-masing.

Menurut warga, pola kejahatan yang terus berulang menunjukkan adanya jaringan kriminal yang dinilai semakin terorganisir dan sulit dikendalikan tanpa langkah luar biasa dari negara.

“Masyarakat hanya ingin hidup tenang, bekerja aman, dan pulang ke rumah tanpa rasa takut menjadi korban begal,” tulis warga dalam surat terbuka tersebut.

Warga berharap pemerintah pusat segera memberi perhatian serius terhadap kondisi keamanan di kawasan Tapal Kuda Jawa Timur sebelum semakin banyak korban berjatuhan akibat maraknya aksi begal dan curanmor.

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar