Melemahnya Rupiah Berdampak hingga Desa, Perajin Kerupuk Rambak di Rembang Keluhkan Harga Tepung Naik 31 Persen
![]() |
| Perajin kerupuk rambak di Dusun Sumurboto, Rembang, menjemur hasil produksi |
REMBANG, ujungpublik.com | Dampak melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat ternyata tidak hanya dirasakan pelaku usaha besar di perkotaan. Di Dusun Sumurboto, Desa Jukung, Kecamatan Bulu, Kabupaten Rembang, puluhan perajin kerupuk rambak mulai merasakan tekanan setelah harga bahan baku utama mengalami kenaikan signifikan dalam beberapa waktu terakhir.
Di dusun yang selama ini dikenal sebagai kawasan pertanian dan penghasil aneka buah-buahan tersebut, aktivitas produksi kerupuk rambak kini menjadi salah satu sumber penghasilan masyarakat. Hampir di setiap sudut permukiman, terlihat warga menjemur adonan kerupuk yang telah dicetak sebelum dikemas dan dikirim ke luar daerah.
Sedikitnya 40 kepala keluarga di Dusun Sumurboto saat ini menggantungkan sebagian pendapatannya dari usaha rumahan pembuatan kerupuk rambak. Produk yang dihasilkan kemudian dipasarkan ke Bandung, Jawa Barat, melalui jaringan pemodal dan pengepul yang memasok bahan baku sekaligus menampung hasil produksi warga.
Taslim, salah seorang perajin setempat, mengatakan usaha tersebut telah berkembang pesat dalam tiga tahun terakhir. Awalnya hanya dijalankan oleh segelintir warga sebelum akhirnya menyebar ke puluhan rumah tangga karena dinilai mampu memberikan tambahan penghasilan bagi keluarga.
“Awalnya hanya sekitar lima rumah yang membuat. Kami diajari terlebih dahulu oleh beberapa orang yang sudah bisa. Setelah itu berkembang dari mulut ke mulut sampai sekarang sekitar 40 rumah ikut memproduksi kerupuk rambak,” kata Taslim saat ditemui di Dusun Sumurboto.
Menurutnya, produksi kerupuk rambak dari seluruh perajin di dusun tersebut dapat mencapai sekitar 1.500 kemasan setiap pekan. Setiap kemasan memiliki berat sekitar 5 kilogram dan seluruh hasil produksi dikirim ke Bandung untuk dipasarkan kembali.
“Kalau saya hanya membuat karena bahan bakunya sudah disediakan. Kalau sudah jadi, misalnya 50 pack, saya hubungi pengepul untuk diambil. Kalau dijumlahkan seluruh warga, seminggu bisa mencapai sekitar 1.500 pack. Selama cuaca panas untuk proses pengeringan, produksi relatif lancar,” ujarnya.
Namun di balik tingginya produktivitas tersebut, para perajin kini menghadapi kenaikan biaya produksi akibat melonjaknya harga tepung pati yang menjadi bahan baku utama pembuatan kerupuk rambak.
Taslim mengungkapkan harga tepung pati yang sebelumnya berada di kisaran Rp205 ribu per sak kini naik menjadi sekitar Rp270 ribu per sak. Kenaikan tersebut mencapai sekitar 31 persen dibandingkan harga sebelumnya.
Sementara itu, harga tepung terigu ukuran 25 kilogram yang juga digunakan sebagai campuran bahan baku masih bertahan di kisaran Rp175 ribu per sak.
“Bahan bakunya campuran tepung pati dan tepung terigu dengan perbandingan satu banding satu. Yang naik cukup tinggi tepung pati. Kalau terigu masih relatif tetap. Semoga tidak ikut naik karena akan semakin berat bagi perajin,” tuturnya.
Untuk menjaga keberlangsungan produksi, sejumlah perajin terpaksa melakukan penyesuaian komposisi bahan baku agar biaya operasional tetap terkendali tanpa menghentikan kegiatan usaha.
“Saat harga tepung pati naik, biasanya kadarnya sedikit dikurangi supaya produksi tetap jalan dan semua masih bisa bekerja,” katanya.
Keberadaan industri rumahan kerupuk rambak di Dusun Sumurboto menjadi contoh bagaimana dinamika ekonomi nasional dan global dapat menjangkau hingga tingkat desa. Kenaikan harga bahan baku yang dipengaruhi berbagai faktor pasar menunjukkan bahwa pelaku usaha mikro di daerah juga memiliki keterkaitan dengan rantai pasok yang lebih luas.
Meski menghadapi tantangan kenaikan biaya produksi, para perajin berharap stabilitas harga bahan baku dapat kembali terjaga sehingga usaha yang selama ini menjadi penopang ekonomi puluhan keluarga tersebut tetap dapat bertahan dan berkembang.
