Gunung Semeru Kembali Erupsi, Kolom Abu Capai 600 Meter di Atas Puncak
LUMAJANG, ujungpublik.com | Gunung Semeru yang berada di wilayah Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur, kembali mengalami erupsi pada Senin (1/6/2026) sore. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat kolom abu vulkanik membumbung hingga sekitar 500 hingga 600 meter di atas puncak gunung yang saat ini masih berstatus Level III atau Siaga.
Berdasarkan laporan resmi PVMBG, erupsi terjadi pada pukul 16.44 WIB. Kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang dan bergerak mengikuti arah angin di sekitar puncak.
"Terjadi erupsi G. Semeru pada hari Senin, 01 Juni 2026, pukul 16.44 WIB dengan tinggi kolom abu teramati ±500 meter di atas puncak (±4.176 meter di atas permukaan laut)," tulis PVMBG dalam laporan tertulisnya.
Erupsi terbaru tersebut menambah rangkaian aktivitas vulkanik Gunung Semeru yang dalam beberapa waktu terakhir masih menunjukkan dinamika cukup tinggi. Sebelumnya, gunung tertinggi di Pulau Jawa itu juga tercatat meluncurkan awan panas guguran (APG) dengan jarak luncur mencapai sekitar 2.500 meter ke arah tenggara.
Selain awan panas guguran, aktivitas tremor harmonik juga masih terdeteksi berdasarkan hasil pemantauan petugas gunung api. Tremor harmonik merupakan salah satu indikator adanya pergerakan fluida magma di dalam tubuh gunung yang terus dipantau oleh otoritas vulkanologi.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang, Isnugroho, S.Sos, mengatakan aktivitas tremor harmonik menjadi salah satu parameter penting dalam pemantauan aktivitas Semeru.
"Aktivitas tremor harmonik juga masih terdeteksi dalam 12 jam terakhir. Kondisi itu menjadi indikasi yang senantiasa kita pantau terus," ujarnya.
Dengan status Semeru yang masih berada pada Level III (Siaga), masyarakat diminta tetap meningkatkan kewaspadaan dan mematuhi seluruh rekomendasi yang dikeluarkan PVMBG.
PVMBG mengingatkan masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas apa pun di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan sesuai radius yang telah direkomendasikan. Kawasan tersebut masih berpotensi terdampak awan panas guguran, guguran lava, maupun aliran lahar yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
Selain itu, masyarakat juga diminta tidak beraktivitas dalam jarak 500 meter dari tepi sungai atau sempadan sungai di sepanjang Besuk Kobokan. Imbauan tersebut diberikan karena terdapat potensi perluasan awan panas dan aliran lahar yang dapat menjangkau hingga jarak 17 kilometer dari puncak Gunung Semeru.
"Di luar jarak tersebut, masyarakat tidak melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 km dari puncak," tulis PVMBG.
Besuk Kobokan selama ini menjadi salah satu kawasan yang mendapat perhatian khusus karena merupakan jalur utama aliran material vulkanik dari Gunung Semeru. Saat terjadi erupsi maupun hujan dengan intensitas tinggi di wilayah puncak, kawasan tersebut berpotensi dilalui lahar dan material vulkanik lainnya.
Pemerintah daerah bersama petugas terkait terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan aktivitas Gunung Semeru. Masyarakat diimbau untuk tidak mudah percaya pada informasi yang belum terverifikasi dan selalu mengikuti perkembangan terbaru melalui kanal resmi PVMBG, BPBD, maupun pemerintah daerah setempat.
Hingga laporan ini diterbitkan, belum ada laporan mengenai dampak signifikan akibat erupsi yang terjadi pada Senin sore. Namun demikian, kewaspadaan tetap diperlukan mengingat aktivitas vulkanik Gunung Semeru masih fluktuatif dan berpotensi mengalami perubahan sewaktu-waktu.
