Doa Perdamaian Menggema di Borobudur, Umat Buddha dari Berbagai Negara Ikuti Ritual Jelang Waisak 2026
![]() |
| Umat Buddha dari MUNI menggelar Nyingma Monlam Chenmo di Taman Aksobya Kompleks Candi Borobudur, Kamis (28/5/2026). |
MAGELANG, ujungpublik.com | Suasana hening menyelimuti kawasan Taman Akshobhya, Zona II Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Kamis (28/5/2026). Di bawah langit mendung menjelang perayaan Trisuci Waisak 2570 BE/2026, ratusan umat Buddha duduk bersila sambil melantunkan doa-doa perdamaian untuk dunia yang masih dibayangi konflik dan krisis kemanusiaan.
Ritual bertajuk Nyingma Monlam Chenmo 2026 itu digelar oleh Majelis Umat Nyingma Indonesia (MUNI) dan menjadi salah satu rangkaian spiritual terbesar menjelang Waisak di Candi Borobudur tahun ini.
Lantunan mantra dari tradisi Vajrayana Tibet terdengar bergema sejak pagi. Aroma dupa memenuhi area ritual, sementara para umat mengenakan jubah dan pakaian serba putih mengikuti doa bersama yang dipimpin Yang Mulia Kyabje Dungzin Garab Rinpoche.
Tak hanya berasal dari Indonesia, peserta ritual juga datang dari Singapura, Malaysia, Vietnam, Hongkong, Taiwan, Jepang, China hingga sejumlah negara di Eropa. Namun jumlah peserta internasional tahun ini disebut mengalami penurunan akibat situasi global yang belum stabil.
“Sebagian umat dari luar negeri sebenarnya sudah mendaftar, tetapi ada yang membatalkan perjalanan karena kondisi perang dan kendala penerbangan internasional,” kata Ketua Panitia Nyingma Monlam Chenmo 2026, Lama Rama Santoso Lieme.
Menurut Lama Rama, doa bersama ini rutin dilaksanakan sejak masa pandemi Covid-19 dan kini memasuki tahun keempat. Tema utama yang diangkat tetap sama, yakni memohon perdamaian dunia dan kesejahteraan seluruh makhluk hidup.
“Selain mendoakan perdamaian dunia, kami juga berdoa khusus untuk Indonesia agar masyarakat hidup damai, sejahtera dan penuh kebahagiaan,” ujarnya.
Borobudur dipilih bukan tanpa alasan. Kompleks candi Buddha terbesar di dunia itu diyakini memiliki nilai spiritual kuat bagi umat Buddha lintas tradisi. Dalam keyakinan Vajrayana, doa yang dipanjatkan di tempat suci dipercaya membawa energi dan berkah lebih besar.
Dungzin Garab Rinpoche menjelaskan, Nyingma Monlam merupakan tradisi doa agung dari aliran Nyingma, tradisi tertua dalam Buddhisme Tibet. Doa tersebut tidak ditujukan untuk kepentingan pribadi, melainkan bagi seluruh makhluk hidup tanpa terkecuali.
“Aspirasi agung berarti mendoakan semua makhluk agar terbebas dari penderitaan dan mencapai kebahagiaan sejati,” jelasnya.
Ia menyebut terdapat tiga kekuatan utama dalam ritual tersebut, yakni niat tulus demi seluruh makhluk, lokasi suci di kawasan Candi Borobudur, dan doa yang dipanjatkan bersama-sama oleh ratusan umat dalam satu hati.
Menjelang puncak Waisak 2026, rangkaian ritual di Borobudur masih akan berlanjut. Pada Jumat (29/5/2026), umat dijadwalkan mengikuti ritual Krodikali Feast Offering serta larung Pelita Purnama Sidhi di Sungai Progo pada malam hari.
Sementara pada Sabtu (30/5/2026), akan digelar ritual Merti Karuna Bumi, perpaduan tradisi budaya Jawa dengan nilai-nilai Buddhisme sebagai bentuk penghormatan terhadap alam dan kehidupan.
Sebelum bergabung bersama WALUBI dalam puncak perayaan Waisak nasional pada Minggu (31/5/2026), umat MUNI juga akan menggelar acara Borobudur Peace and Prosperity pada Sabtu malam.
Di akhir ritual Kamis sore, ratusan umat melakukan pradaksina atau berjalan mengelilingi kawasan Borobudur sambil membawa doa-doa perdamaian. Langkah mereka perlahan menyusuri area candi, di tengah harapan agar dunia segera terbebas dari konflik, perpecahan dan penderitaan.
Fakta Menarik Ritual Nyingma Monlam Chenmo 2026 di Borobudur
- Diikuti umat Buddha dari berbagai negara Asia dan Eropa
- Digelar di Taman Akshobhya, Zona II Candi BorobudErop
- Menjadi ritual doa perdamaian dunia menjelang Waisak 2026
- Dipimpin tokoh Vajrayana Tibet, Kyabje Dungzin Garab Rinpoche
- Dirangkai dengan larung pelita dan ritual budaya Jawa-Buddha
