Tiga Ulama Besar NU yang Menjadi Pilar Persatuan Umat: KH. Ali Maksum, KH. Mahrus Ali, dan KH. As’ad Syamsul Arifin
![]() |
| Gambar ilustrasi KH. Ali Maksum, KH. Mahrus Ali, dan KH. R. As'ad Syamsul Arifin |
Dalam sejarah perjalanan Islam di Indonesia, peran ulama tidak hanya terbatas pada pengajaran agama, tetapi juga mencakup kepemimpinan sosial, penjagaan nilai kebangsaan, serta penguatan persatuan umat. Di antara banyak tokoh yang berpengaruh, nama KH. Ali Maksum, KH. Mahrus Ali, dan KH. R. As'ad Syamsul Arifin menjadi bagian penting dalam sejarah Nahdlatul Ulama (NU), khususnya pada era 1970-an hingga 1980-an.
Ketiga ulama ini dikenal memiliki hubungan yang erat, tidak hanya dalam lingkup pribadi, tetapi juga dalam jaringan keilmuan, kepemimpinan pesantren, serta kontribusi dalam menjaga stabilitas organisasi dan kehidupan berbangsa. Mereka sering disebut sebagai bagian dari “kiai sepuh” yang memiliki pengaruh luas di kalangan masyarakat Nahdliyin.
Jejak Keilmuan dan Jaringan Sanad Ulama
Salah satu faktor yang mempererat hubungan antara ketiga tokoh ini adalah keterkaitan dalam jaringan keilmuan atau sanad. Dalam tradisi pesantren, sanad bukan sekadar jalur transmisi ilmu, tetapi juga menjadi fondasi dalam menjaga otoritas keilmuan dan kesinambungan ajaran Islam.
Melalui jaringan ini, KH. Ali Maksum, KH. Mahrus Ali, dan KH. As’ad Syamsul Arifin terhubung dalam satu garis besar tradisi keilmuan Ahlussunnah wal Jamaah yang menjadi dasar ajaran NU. Mereka tidak hanya saling mengenal, tetapi juga saling menghormati dan menguatkan dalam menyebarkan nilai-nilai keislaman yang moderat dan berimbang.
Kedekatan ini juga tercermin dalam berbagai forum keagamaan, musyawarah ulama, serta komunikasi antar pesantren yang berlangsung secara intens pada masa itu. Dalam banyak kesempatan, pandangan mereka menjadi rujukan penting dalam menentukan arah kebijakan keagamaan di lingkungan NU.
Peran Pesantren sebagai Basis Peradaban
Ketiga ulama ini dikenal sebagai pengasuh pesantren besar yang memiliki pengaruh luas di Indonesia. Pesantren-pesantren tersebut tidak hanya menjadi pusat pendidikan agama, tetapi juga menjadi tempat pembentukan karakter dan kaderisasi ulama.
1. KH. Ali Maksum dan Pesantren Krapyak
KH. Ali Maksum dikenal sebagai tokoh yang membesarkan Pondok Pesantren Krapyak di Yogyakarta. Di bawah kepemimpinannya, pesantren ini berkembang menjadi salah satu pusat pendidikan Islam yang mengedepankan keseimbangan antara tradisi dan pemikiran modern.
Pendekatan beliau yang intelektual dan moderat menjadikan Krapyak sebagai tempat lahirnya banyak tokoh yang berperan dalam berbagai bidang, baik keagamaan maupun sosial.
2. KH. Mahrus Ali dan Pesantren Lirboyo
Sementara itu, KH. Mahrus Ali dikenal sebagai sosok yang berperan besar dalam perkembangan Pondok Pesantren Lirboyo di Kediri, Jawa Timur.
Pesantren Lirboyo dikenal sebagai salah satu pesantren salaf yang kuat dalam kajian kitab kuning, khususnya dalam bidang fikih. KH. Mahrus Ali memiliki reputasi sebagai ulama yang tegas dan mendalam dalam keilmuan, sehingga banyak santri yang datang untuk menimba ilmu langsung dari beliau.
3. KH. As’ad Syamsul Arifin dan Pesantren Sukorejo
Adapun KH. R. As'ad Syamsul Arifin dikenal sebagai tokoh sentral di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo, Situbondo.
Beliau dikenal memiliki kharisma yang kuat serta peran penting dalam sejarah NU dan Indonesia. Pesantren Sukorejo berkembang menjadi salah satu pusat pendidikan Islam terbesar yang tidak hanya fokus pada ilmu agama, tetapi juga membentuk kesadaran kebangsaan di kalangan santri.
Peran Strategis dalam Nahdlatul Ulama
Sebagai bagian dari ulama sepuh, ketiga tokoh ini memiliki peran penting dalam menjaga arah Nahdlatul Ulama di tengah dinamika sosial dan politik Indonesia.
Pada era 1970-an hingga 1980-an, Indonesia berada dalam fase perubahan yang cukup signifikan. Dalam situasi tersebut, peran ulama sangat dibutuhkan untuk menjaga keseimbangan antara kepentingan umat, stabilitas nasional, dan nilai-nilai keislaman.
KH. Ali Maksum, KH. Mahrus Ali, dan KH. As’ad Syamsul Arifin dikenal sebagai tokoh yang mampu memberikan pandangan bijak dan menjadi penyejuk dalam berbagai situasi. Nasihat mereka sering dijadikan rujukan oleh para pengurus NU maupun masyarakat luas.
Perbedaan Karakter, Satu Tujuan
Menariknya, ketiga ulama ini memiliki karakter yang berbeda, namun tetap mampu berjalan seiring dalam satu tujuan yang sama.
• KH. Ali Maksum dikenal dengan pendekatan yang intelektual dan moderat
• KH. Mahrus Ali dikenal dengan ketegasan serta kedalaman ilmu fikih
• KH. As’ad Syamsul Arifin dikenal dengan kharisma dan semangat perjuangannya
Perbedaan ini justru menjadi kekuatan. Dalam tradisi NU, keberagaman pandangan bukanlah hal yang memecah, melainkan menjadi ruang untuk saling melengkapi. Ketiga tokoh ini menunjukkan bahwa persatuan tidak harus berarti keseragaman, tetapi bisa dibangun melalui saling menghormati.
Warisan Pemikiran dan Keteladanan
Warisan terbesar dari ketiga ulama ini bukan hanya lembaga pesantren yang mereka kelola, tetapi juga nilai-nilai yang mereka tanamkan. Nilai tersebut meliputi:
• Pentingnya menjaga persatuan umat
• Sikap moderat dalam beragama
• Keseimbangan antara tradisi dan perkembangan zaman
• Komitmen terhadap keutuhan bangsa
Nilai-nilai ini masih relevan hingga saat ini, terutama di tengah tantangan globalisasi dan perubahan sosial yang cepat.
Relevansi di Era Modern
Di era modern, ketika arus informasi begitu cepat dan perbedaan sering kali menjadi sumber konflik, teladan dari KH. Ali Maksum, KH. Mahrus Ali, dan KH. As’ad Syamsul Arifin menjadi semakin penting.
Mereka menunjukkan bahwa ulama tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai penjaga harmoni sosial. Pendekatan yang mengedepankan dialog, kebijaksanaan, dan kebersamaan menjadi pelajaran berharga bagi generasi saat ini.
Kisah hubungan antara KH. Ali Maksum, KH. Mahrus Ali, dan KH. R. As'ad Syamsul Arifin merupakan cerminan kuatnya tradisi keilmuan dan persatuan ulama di Indonesia.
Melalui peran mereka di Nahdlatul Ulama serta kontribusi di pesantren masing-masing, ketiganya telah memberikan fondasi penting bagi perkembangan Islam yang damai dan inklusif di Indonesia.
Kisah ini tidak hanya menjadi bagian dari sejarah, tetapi juga sumber inspirasi tentang pentingnya kolaborasi, kebijaksanaan, dan komitmen dalam menjaga keutuhan umat dan bangsa.
