BREAKING NEWS

Gunung Semeru Sudah 56 Kali Erupsi Sejak 1818, Aktivitas Vulkanik Masih Tinggi pada 2026

Gunung Semeru tercatat telah mengalami sedikitnya 56 kali erupsi eksplosif sejak letusan pertamanya yang terdokumentasi pada 8 November 1818

LUMAJANG, ujungpublik.com | Gunung Semeru di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur, terus menunjukkan aktivitas vulkanik yang tinggi hingga 2026. Gunung tertinggi di Pulau Jawa itu tercatat telah mengalami sedikitnya 56 kali erupsi eksplosif sejak letusan pertamanya yang terdokumentasi pada 8 November 1818.

Data tersebut dihimpun oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Dalam catatan sejarah aktivitas vulkanik Indonesia, Semeru menjadi salah satu gunung api paling aktif dengan siklus erupsi yang berlangsung secara berulang selama lebih dari dua abad.

Selain menyandang status sebagai gunung tertinggi di Pulau Jawa dengan ketinggian 3.676 meter di atas permukaan laut, Semeru juga dikenal sebagai salah satu gunung api paling aktif di Indonesia. Aktivitas erupsinya tercatat terjadi dalam berbagai periode, mulai 1945–1960, berlanjut pada 1978–1989, hingga terus berlangsung dalam beberapa tahun terakhir.

Tingginya aktivitas vulkanik Semeru terlihat sepanjang 2025. Sepanjang tahun tersebut, hampir 2.800 kali letusan tercatat oleh otoritas vulkanologi. Intensitas aktivitas yang meningkat bahkan sempat mendorong Pemerintah Kabupaten Lumajang menetapkan status tanggap darurat setelah terjadi erupsi besar pada 19 November 2025.

Erupsi tersebut memicu pengungsian hampir 1.000 warga dan berdampak pada penutupan akses Jembatan Gladak Perak, salah satu jalur penghubung penting di wilayah Lumajang. Pada periode itu, status aktivitas Gunung Semeru sempat dinaikkan menjadi Level IV atau Awas.

Memasuki 2026, aktivitas vulkanik Semeru belum menunjukkan tanda-tanda penurunan yang signifikan. Pada 2 Januari 2026, gunung tersebut tercatat mengalami empat kali erupsi dengan tinggi kolom letusan mencapai sekitar satu kilometer di atas puncak.

Aktivitas serupa kembali terjadi pada 8 Mei 2026. Dalam satu pagi, Semeru tercatat erupsi sebanyak lima kali dengan semburan abu vulkanik mencapai sekitar 1.200 meter. Saat itu, gunung berstatus Level III atau Siaga dan masyarakat diminta mewaspadai potensi hujan abu, awan panas guguran, serta banjir lahar di sepanjang aliran sungai berhulu di Semeru.

Tak lama berselang, tepatnya pada 18 Mei 2026, Gunung Semeru kembali mengalami tiga kali erupsi dengan tinggi letusan mencapai sekitar satu kilometer. Otoritas vulkanologi kembali mengingatkan masyarakat untuk tidak memasuki kawasan yang telah ditetapkan sebagai zona bahaya.

Rangkaian aktivitas tersebut menunjukkan bahwa Semeru masih berada dalam fase vulkanik aktif yang memerlukan pemantauan intensif. Selain erupsi, sejumlah parameter kegempaan seperti tremor harmonik dan guguran material dari kawah juga terus menjadi perhatian petugas pengamatan gunung api.

PVMBG bersama pemerintah daerah terus melakukan pemantauan selama 24 jam guna mengantisipasi potensi peningkatan aktivitas yang dapat membahayakan masyarakat. Warga yang tinggal di sekitar lereng gunung maupun sepanjang daerah aliran sungai berhulu di Semeru diimbau selalu mengikuti informasi resmi dan mematuhi rekomendasi yang dikeluarkan otoritas terkait.

Dengan sejarah panjang erupsi selama lebih dari dua abad dan aktivitas vulkanik yang masih tinggi hingga saat ini, Gunung Semeru tetap menjadi salah satu gunung api yang paling diawasi di Indonesia. Kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat menjadi faktor penting untuk meminimalkan risiko saat terjadi peningkatan aktivitas vulkanik di masa mendatang.

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar