IHSG Tiba-Tiba Melemah ke 7.594, Ini Biang Keroknya: Bukan Ekonomi RI, Tapi Konflik Global!
0 menit baca
![]() |
| Gambar Ilustrasi |
Pergerakan IHSG hari ini masih berada di kisaran 7.590–7.630, dengan nilai transaksi harian sekitar Rp15–16 triliun. Angka ini menunjukkan likuiditas pasar tetap terjaga, meskipun arah pergerakan cenderung tertekan oleh sentimen global.
Secara mingguan, IHSG justru mencatatkan penguatan sekitar 2–3 persen dengan kapitalisasi pasar mencapai kurang lebih Rp13.600 triliun. Kenaikan ini ditopang oleh aliran dana masuk investor asing, terutama pada sektor finansial dan infrastruktur.
Namun, pada perdagangan awal pekan, IHSG sempat melemah ke level 7.594. Pelemahan ini bukan disebabkan oleh memburuknya kondisi domestik, melainkan lebih karena tekanan eksternal dan aksi koreksi pada saham-saham berkapitalisasi besar.
Tekanan utama datang dari meningkatnya tensi geopolitik global, khususnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi, termasuk potensi terganggunya jalur strategis seperti Selat Hormuz, memicu kenaikan harga minyak dunia. Situasi ini mendorong investor global beralih ke aset yang lebih aman atau dikenal dengan fenomena risk-off.
Sentimen tersebut berdampak langsung ke pasar saham, termasuk IHSG yang sempat turun sekitar 0,52 persen atau 39 poin. Tekanan juga diperkuat oleh koreksi pada saham-saham big caps dan indeks LQ45, yang memiliki bobot besar dalam pergerakan IHSG.
Hampir seluruh sektor mengalami tekanan, mulai dari energi, teknologi, keuangan, hingga properti dan infrastruktur. Akibatnya, tidak ada sektor yang cukup kuat untuk menahan laju penurunan indeks.
Dari sisi eksternal lainnya, nilai tukar rupiah juga berada dalam tekanan di kisaran Rp17.170 per dolar AS. Kondisi ini, ditambah kecenderungan arus dana asing keluar, membuat pelaku pasar memilih bersikap wait and see. Meski volume transaksi tetap tinggi, dominasi aksi jual masih menekan pergerakan IHSG.
