12 Kilometer Demi Mengajar: Ketika Guru Honorer Digaji Rp200 Ribu, Negara ke Mana?
![]() |
| Dok. Ist |
SUKABUMI, | Di negeri yang setiap tahunnya merayakan Hari Guru, kita sering bertanya: siapa sebenarnya pahlawan itu? Apakah mereka yang berdiri di podium, menerima piagam, disorot kamera, lalu dipuji dalam pidato-pidato resmi?
Atau justru mereka yang berjalan dalam diam, tanpa tepuk tangan, tanpa sorotan, tanpa panggung?
Namanya Empan Supandi. Seorang guru honorer di MTs Thoriqul Hidayah, Sukabumi, Jawa Barat. Ia bukan tokoh nasional. Bukan pejabat. Bukan pula orang yang punya pengaruh besar. Tapi ia punya satu hal yang mungkin hari ini mulai langka: keteguhan hati untuk tetap mengajar, meski hidup tak pernah benar-benar memberi ruang untuk sejahtera.
Bayangkan. Setiap pagi, saat banyak dari kita masih sibuk mencari alasan untuk menunda bangun, Pak Empan sudah melangkah. Bukan naik motor. Bukan diantar mobil. Tapi berjalan kaki. Menembus jarak. Menantang lelah. Mengalahkan dingin.
12 kilometer. Setiap hari.
Bukan sekali dua kali. Bukan sebulan. Bukan setahun. Tapi disebut sudah 14 tahun lamanya. Jika itu bukan perjuangan, lalu apa namanya?
Tiga jam di perjalanan. Tiga jam yang seharusnya bisa dipakai untuk istirahat. Tiga jam yang seharusnya bisa dipakai untuk keluarga. Tapi tidak. Ia memilih jalan itu. Karena di ujung perjalanan, ada sekolah. Ada murid-murid. Ada harapan.
Ia berangkat selepas azan Subuh berkumandang. Saat matahari bahkan belum sempat menampakkan wajah. Sementara kita, sering kali baru mulai sibuk setelah matahari tinggi.
Dan yang lebih menyesakkan: semua itu dilakukan dengan upah yang bahkan tak layak disebut gaji.
Rp200 ribu per bulan.
Mari kita berhenti sejenak dan hitung. Dua ratus ribu. Bahkan tidak cukup untuk membeli kebutuhan pokok seminggu. Tidak cukup untuk membayar bensin jika ia punya kendaraan. Tidak cukup untuk sekadar hidup normal di tengah harga yang terus naik.
Tapi ia tidak berhenti.
Ia tidak menyerah.
Ia tidak mengeluh keras.
Karena ia tahu, murid-muridnya tidak boleh ikut putus asa hanya karena gurunya hidup dalam keterbatasan.
Di kelas, Pak Empan dikenal santun, disiplin, dan dicintai murid-muridnya. Pelajarannya mudah dipahami. Caranya mengajar membuat anak-anak merasa dihargai. Dan barangkali itulah sebabnya ia tetap bertahan: karena ia tahu ilmu adalah cahaya, dan cahaya tidak boleh padam hanya karena gelap terlalu lama.
Lalu kita bertanya lagi, dengan nada yang lebih getir:
di mana negara saat seorang guru harus berjalan kaki 12 kilometer demi mengajar?
Di mana sistem saat seorang pendidik hanya dibayar Rp200 ribu?
Di mana kita semua, ketika pengabdian dibalas dengan ketidakadilan?
Kisah Pak Empan kini viral. Warganet ramai-ramai bersimpati. Banyak yang mengatakan ia pantas diberi motor. Pantas diberi bantuan. Pantas diberi penghargaan.
Tapi pertanyaan besarnya bukan hanya soal motor.
Pertanyaannya adalah: mengapa seorang guru harus viral dulu untuk dihargai?
Karena penghargaan yang sejati bukanlah hadiah sesaat. Bukan belas kasihan. Bukan tren media sosial.
Penghargaan yang sesungguhnya adalah sistem yang berpihak. Kebijakan yang adil. Dan kehidupan yang layak untuk mereka yang mencerdaskan bangsa.
Pak Empan Supandi berjalan setiap hari.
Bukan hanya menuju sekolah.
Tapi seolah sedang berjalan di atas luka panjang bernama ketimpangan.
Dan mungkin, di langkah-langkah itulah, kita seharusnya belajar satu hal:
bahwa pendidikan tidak pernah murah, tapi para gurunya sering dibuat terlalu murah untuk dihargai.
