Tiyo Ardianto Sentil Kepala BGN Baru di Depan Jubir Gerindra: "Yang Penting Loyalitas?"
![]() |
| Tiyo Ardianto dan Jubir Gerindra Astrio Feligent berdebat soal kompetensi, moralitas, dan loyalitas dalam penunjukan Kepala BGN baru. (Foto: up) |
Mantan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM) 2025, Tiyo Ardianto, melontarkan kritik terhadap penunjukan Nanik S Deyang sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) dalam sebuah debat dengan Juru Bicara Partai Gerindra, Astrio Feligent. Perdebatan yang tayang dalam program Bola Liar di Kompas TV, Jumat (5/6/2026), itu menyoroti isu kompetensi, moralitas, dan loyalitas dalam pengisian jabatan strategis di pemerintahan.
Dalam forum tersebut, Tiyo mempertanyakan dasar penunjukan Nanik S Deyang yang sebelumnya menjabat Wakil Kepala BGN. Menurutnya, jabatan publik seharusnya diisi oleh figur yang memiliki kompetensi dan integritas yang relevan dengan tanggung jawab yang diemban, terlebih di tengah sorotan terhadap tata kelola program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Syarat menjadi pejabat itu ada kompetensi dan moralitas, tapi di jamannya Pak Prabowo, kompetensinya enggak ada, moralitasnya tidak ada, yang penting loyalitasnya,” kata Tiyo.
Tiyo menilai persoalan yang muncul dalam pelaksanaan program MBG tidak semata-mata berkaitan dengan individu yang memimpin lembaga, melainkan juga menyangkut sistem dan tata kelola yang diterapkan. Karena itu, menurutnya, pergantian pimpinan tidak akan menyelesaikan persoalan apabila tidak diikuti evaluasi dan perbaikan menyeluruh.
Ia juga menyinggung latar belakang Nanik yang sebelumnya berkarier sebagai wartawan sebelum dipercaya menduduki posisi strategis di BGN. Menurut Tiyo, proses pengisian jabatan publik harus mengedepankan aspek kompetensi dan integritas sebagai pertimbangan utama.
Menanggapi kritik tersebut, Astrio Feligent menilai kompetensi tidak dapat diukur semata dari latar belakang profesi seseorang. Ia mempertanyakan anggapan bahwa seseorang yang berasal dari dunia jurnalistik tidak memiliki kapasitas untuk memimpin lembaga negara.
“Jadi menurut Mas, kalau wartawan, enggak kompeten?” ujar Astrio.
Astrio menjelaskan bahwa tugas utama pimpinan BGN bukan hanya berkaitan dengan aspek teknis gizi, melainkan juga memastikan program berjalan efektif melalui pengelolaan organisasi, rantai pasok, dan sistem distribusi yang baik.
“Kompetensi tidak selalu harus berarti menjadi ahli di bidang itu. Yang dibutuhkan adalah kemampuan menjalankan program, memastikan program tepat sasaran, mengelola rantai pasok, serta mengelola tata kelola dan standar manajemen agar program berhasil,” katanya.
Pernyataan tersebut kemudian mendapat tanggapan dari Tiyo. Mantan Ketua BEM UGM itu menilai penjelasan yang disampaikan Astrio justru memperkuat kritiknya mengenai pentingnya kompetensi dalam pengisian jabatan publik.
“Bahwa kompetensi memang tidak diperlukan, terima kasih konfirmasinya,” ujar Tiyo.
Menjelang akhir debat, Tiyo kembali menegaskan pandangannya bahwa kompetensi dan moralitas merupakan aspek yang tidak dapat dipisahkan dari pengisian jabatan publik.
“Bahwa kompetensi dan moralitas tidak dianggap penting. Yang utama adalah loyalitas. Terima kasih,” ucapnya.
Pernyataan tersebut disambut tepuk tangan sebagian audiens yang hadir di studio. Sementara itu, Astrio tetap menolak anggapan bahwa pemerintah mengutamakan loyalitas dibandingkan kemampuan dalam menempatkan pejabat pada posisi strategis.
Perdebatan antara Tiyo Ardianto dan Astrio Feligent itu kemudian menjadi perhatian publik dan memicu diskusi mengenai standar kompetensi dalam pengisian jabatan negara. Di tengah sorotan terhadap tata kelola program Makan Bergizi Gratis, pergantian pucuk pimpinan BGN dinilai sejumlah pihak sebagai momentum untuk memastikan perbaikan sistem, transparansi, dan akuntabilitas dalam pelaksanaan program yang menjadi salah satu prioritas pemerintah tersebut.
