BREAKING NEWS

Connie Rahakundini Ingatkan Prabowo, Kekuatan Bangsa Tidak Hanya Dibangun dari Alutsista

Sumber: Wawancara Connie Rahakundini Bakrie dalam kanal YouTube Refly Harun Podcast, Sabtu, 13 Juni 2026.

JAKARTA, ujungpublik.com | Pengamat militer sekaligus akademisi, Connie Rahakundini Bakrie, mengingatkan Presiden Prabowo Subianto agar memperluas ruang dialog dalam proses pengambilan kebijakan negara. Menurutnya, tantangan yang dihadapi Indonesia saat ini semakin kompleks dan membutuhkan keterlibatan berbagai pemikiran, pengalaman, serta perspektif dari banyak kalangan.

Pandangan tersebut disampaikan Connie dalam wawancara yang tayang di kanal YouTube milik Refly Harun Podcast pada Sabtu, 13 Juni 2026.

Dalam perbincangan itu, Connie menyoroti pentingnya seorang kepala negara mendapatkan masukan yang beragam, baik dari tokoh pemerintahan yang berpengalaman, kalangan akademisi, maupun para pemikir yang memahami berbagai persoalan strategis bangsa. Menurutnya, kepemimpinan yang kuat tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mengambil keputusan, tetapi juga oleh kesediaan mendengar berbagai pandangan sebelum keputusan tersebut ditetapkan.

Ia menilai Indonesia saat ini berada pada fase yang membutuhkan kehati-hatian dalam menentukan arah kebijakan. Di tengah tekanan ekonomi, tantangan geopolitik global, hingga berbagai persoalan sosial di dalam negeri, proses diskusi dan kajian yang mendalam menjadi semakin penting agar kebijakan yang dihasilkan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut, Connie juga menyinggung posisi Teddy Indra Wijaya yang dinilainya memiliki peran besar dalam lingkaran pemerintahan Presiden. Namun, substansi utama yang disampaikannya bukan sekadar mengenai sosok tertentu, melainkan pentingnya memastikan Presiden tetap memperoleh akses terhadap berbagai pandangan dan masukan dari banyak pihak.

Menurut Connie, seorang pemimpin negara perlu mendengarkan tokoh-tokoh yang memiliki pengalaman panjang dalam pemerintahan maupun bidang strategis lainnya. Ia menyebut nama seperti Sufmi Dasco Ahmad dan Sjafrie Sjamsoeddin sebagai bagian dari figur yang dinilai memiliki pengalaman yang dapat menjadi bahan pertimbangan bagi Presiden. Namun, ia menegaskan bahwa ruang dialog tersebut tidak boleh terbatas pada segelintir elite, melainkan juga harus melibatkan akademisi dan berbagai elemen masyarakat.

Lebih jauh, Connie menyoroti persepsi yang berkembang di ruang publik mengenai akses terhadap Presiden yang dinilai semakin terbatas. Menurutnya, persepsi semacam itu perlu menjadi perhatian karena dapat memengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap proses pengambilan keputusan di tingkat pemerintahan.

Di balik kritik yang disampaikannya, Connie menekankan satu pesan yang menurutnya jauh lebih penting, yakni tentang hakikat kekuatan sebuah bangsa. Ia menilai kekuatan negara tidak dapat diukur semata dari jumlah persenjataan, kekuatan militer, atau modernisasi alat utama sistem pertahanan.

Menurut Connie, sejarah peradaban dunia menunjukkan bahwa kemajuan bangsa-bangsa besar lahir dari kualitas pemikiran, ilmu pengetahuan, inovasi, serta kemampuan melahirkan gagasan yang mampu menjawab tantangan zaman. Karena itu, pembangunan sumber daya manusia dan penguatan kapasitas intelektual bangsa harus menjadi perhatian yang sama pentingnya dengan pembangunan sektor pertahanan.

"Kekuatan tuh di pikiran. Ini udah hilang di Pak Prabowo sekarang. Seolah kekuatan tuh di besi, di senjata, di alutsista, di alpalhankam. No, kekuatan negara itu kekuatan bangsa itu di pikirannya. Makannya lahir peradaban kan," kata Connie.

Pernyataan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa kekuatan nasional pada era modern tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mempertahankan wilayah, tetapi juga oleh kemampuan menghasilkan pengetahuan, teknologi, inovasi, serta kebijakan yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Melalui pandangannya itu, Connie berharap Presiden dapat terus membuka ruang diskusi yang lebih luas dengan berbagai kalangan. Baginya, keberhasilan sebuah pemerintahan tidak hanya bergantung pada kekuatan institusi negara, tetapi juga pada kemampuan pemimpinnya menyerap gagasan, kritik, dan masukan dari beragam elemen bangsa demi menghasilkan kebijakan yang lebih matang dan berkelanjutan.


Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar