BREAKING NEWS

Mahasiswa, Polri, dan Intelektual Kolaborasi di Rimbang Baling, Perkuat Upaya Cegah Karhutla dan Narkoba di Riau

Camping Kebangsaan Mahasiswa Riau yang digelar di kawasan Rimbang Baling, Kabupaten Kampar, pada 25–26 April 2026

KAMPAR, RIAU | Upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau terus diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor. Mahasiswa, kepolisian, dan kalangan intelektual terlibat dalam kegiatan Camping Kebangsaan Mahasiswa Riau yang digelar di kawasan Rimbang Baling, Kabupaten Kampar, pada 25–26 April 2026.

Kegiatan yang diinisiasi Tumbuh Institute ini mengusung tema “Bersama Wujudkan Green Policing, Green Generation, dan Cegah Karhutla”, serta diikuti sekitar 150 mahasiswa dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan organisasi Cipayung Plus se-Provinsi Riau.

Data Karhutla Riau Masih Fluktuatif

Data kebakaran hutan dan lahan di Riau menunjukkan tren fluktuatif dalam beberapa tahun terakhir. Hingga pertengahan April 2026, luas lahan terbakar tercatat mencapai sekitar 3.456 hektare sejak awal tahun.

Sementara itu, pada awal 2026, terdeteksi sekitar 1.849 titik panas (hotspot) yang tersebar di sejumlah wilayah kabupaten/kota di Riau, dengan luas lahan terdampak lebih dari 1.000 hektare.

Pada tahun 2025, total luas lahan terbakar di Riau mencapai sekitar 1.947 hektare hingga akhir Oktober, dengan ratusan titik api yang terpantau sepanjang musim kemarau.

Data tersebut menunjukkan bahwa potensi karhutla di Riau masih memerlukan perhatian serius, terutama saat memasuki periode musim kering.

Dorong Kesadaran Kolektif

Head of Tumbuh Foundation, Azairus Adlu, mengatakan kegiatan ini dirancang sebagai ruang dialog terbuka untuk membangun kesadaran bersama terkait dampak karhutla.

“Karhutla tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga kesehatan masyarakat, aktivitas ekonomi, dan kepercayaan publik,” ujarnya.

Selain itu, ia juga menyoroti isu narkoba sebagai ancaman serius bagi generasi muda.

“Narkoba merusak manusia, sementara karhutla merusak ruang hidup. Keduanya perlu ditangani secara bersama,” kata Azairus.

Kolaborasi Jadi Kunci

Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan menegaskan bahwa penanganan karhutla dan narkoba membutuhkan kolaborasi berbagai pihak.

“Pencegahan harus dilakukan dari hulu melalui edukasi, serta diikuti penegakan hukum di hilir,” ujarnya dalam sesi diskusi.

Ia juga mengingatkan bahwa Riau memiliki riwayat karhutla besar, sehingga kesiapsiagaan perlu terus ditingkatkan.

Kepolisian, kata dia, berkomitmen menindak tegas pelaku pembakaran lahan maupun jaringan narkoba, termasuk jika melibatkan oknum aparat.

Perspektif Lingkungan dan HAM

Pengamat politik Rocky Gerung menilai karhutla perlu dilihat sebagai bagian dari krisis lingkungan global.

“Persoalan lingkungan tidak bisa dipisahkan dari sistem global yang saling terhubung,” ujarnya.

Sementara itu, aktivis HAM Hurriah menekankan bahwa karhutla berkaitan dengan hak masyarakat atas lingkungan yang sehat.

“Dampak asap dan kerusakan lingkungan menyentuh hak dasar masyarakat,” katanya.

Penguatan Diskusi dan Edukasi

Kegiatan ini juga diisi dengan diskusi teknis yang menghadirkan narasumber dari kepolisian, BPBD, pemadam kebakaran, serta Manggala Agni.

Peserta memperoleh pemahaman terkait penanganan karhutla di lapangan, termasuk tantangan mitigasi dan penegakan hukum.

Selain itu, forum diskusi kelompok membahas isu narkoba untuk memperkuat pemahaman mahasiswa terhadap persoalan sosial dan keamanan di daerah.

Harapan ke Depan

Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan dapat berperan aktif dalam upaya pencegahan karhutla dan penyalahgunaan narkoba.

Selain itu, kegiatan ini juga mendorong terbentuknya jejaring kolaboratif antar mahasiswa dan pemangku kepentingan dalam menjaga lingkungan dan masa depan Riau.

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar