BPBD Lumajang Jelaskan Arti Sirine EWS Semeru, Warga Diminta Segera Evakuasi Saat Alarm Panjang Berbunyi
![]() |
| Gunung Semeru Kembali Erupsi Pada Senin (1/5/2026) |
LUMAJANG, ujungpublik.com | Meningkatnya aktivitas Gunung Semeru mendorong Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang mengingatkan masyarakat agar memahami arti bunyi sirine Early Warning System (EWS) yang terpasang di sejumlah kawasan rawan bencana. Pemahaman terhadap sistem peringatan dini tersebut dinilai penting untuk mempercepat evakuasi saat terjadi ancaman awan panas guguran maupun banjir lahar.
BPBD Lumajang telah memasang empat unit EWS yang dilengkapi sirine di sejumlah titik strategis, yakni Batu Padat, Desa Supiturang, Pos Curah Kobokan, dan Antrukan. Keempat lokasi tersebut berada di kawasan yang selama ini menjadi jalur utama aliran material vulkanik dari Gunung Semeru.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Lumajang, Isnugroho, S.Sos, mengatakan pemasangan EWS dilakukan untuk mempercepat penyampaian informasi kepada masyarakat apabila terdeteksi potensi bahaya dari hulu.
“Kawasan berisiko tinggi seperti di Batu Padat, Desa Supiturang, Pos Curah Kobokan, dan Antrukan kita pasang EWS dan sirine,” ujarnya.
Menurutnya, keberadaan EWS tidak akan efektif tanpa pemahaman masyarakat mengenai arti kode bunyi sirine yang disampaikan. Karena itu, edukasi kebencanaan terus dilakukan agar warga dapat mengambil langkah yang tepat saat menerima peringatan.
Bunyi Putus-Putus Tanda Waspada
BPBD menjelaskan, bunyi sirine yang terdengar secara putus-putus menandakan adanya peningkatan kewaspadaan. Kondisi tersebut biasanya muncul ketika sistem mendeteksi potensi ancaman seperti peningkatan debit lahar atau aktivitas vulkanik yang memerlukan perhatian khusus.
Saat sirine berbunyi putus-putus, masyarakat diminta menghentikan aktivitas di sekitar sungai yang berhulu di Gunung Semeru, terutama di jalur yang berpotensi dilalui aliran lahar.
Warga juga diimbau segera memantau informasi resmi dari petugas, menyiapkan dokumen penting, serta bersiap menuju titik kumpul apabila situasi berkembang menjadi lebih berbahaya.
Sirine Panjang Jadi Sinyal Evakuasi
Berbeda dengan bunyi putus-putus, sirine yang berbunyi panjang dan terus-menerus tanpa jeda menandakan kondisi darurat yang membutuhkan tindakan segera.
Dalam situasi tersebut, masyarakat diminta langsung melakukan evakuasi menuju lokasi aman yang telah ditentukan tanpa menunggu instruksi tambahan. Respons cepat menjadi faktor penting untuk meminimalkan risiko korban apabila terjadi awan panas guguran atau banjir lahar.
Petugas juga mengingatkan agar warga tidak mendekati sungai maupun jalur aliran material vulkanik untuk melihat kondisi secara langsung karena dapat membahayakan keselamatan.
Aktivitas Semeru Masih Fluktuatif
Imbauan tersebut disampaikan di tengah aktivitas Gunung Semeru yang masih berstatus Level III (Siaga). Pada Senin (1/6/2026) sore, gunung yang berada di wilayah Kabupaten Lumajang dan Malang itu kembali mengalami erupsi.
Berdasarkan laporan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), erupsi terjadi pada pukul 16.44 WIB dengan tinggi kolom abu teramati sekitar 500 hingga 600 meter di atas puncak.
Selain erupsi terbaru tersebut, aktivitas vulkanik Semeru juga masih menunjukkan dinamika yang perlu diwaspadai. Sebelumnya, gunung tersebut tercatat meluncurkan awan panas guguran dengan jarak luncur mencapai sekitar 2.500 meter ke arah tenggara.
Aktivitas tremor harmonik juga masih terdeteksi dalam pemantauan petugas gunung api. Kondisi tersebut menjadi salah satu indikator adanya pergerakan fluida magma di dalam tubuh gunung.
“Aktivitas tremor harmonik juga masih terdeteksi dalam 12 jam terakhir. Kondisi itu menjadi indikasi yang senantiasa kita pantau terus,” kata Isnugroho.
Besuk Kobokan Tetap Jadi Zona Waspada
BPBD dan PVMBG terus mengingatkan masyarakat agar mematuhi rekomendasi yang telah ditetapkan, khususnya di kawasan Besuk Kobokan yang menjadi jalur utama aliran material vulkanik Semeru.
PVMBG mengimbau masyarakat tidak melakukan aktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan serta tidak beraktivitas dalam jarak 500 meter dari tepi sungai atau sempadan sungai. Kawasan tersebut berpotensi terdampak perluasan awan panas maupun aliran lahar yang dapat mencapai jarak hingga 17 kilometer dari puncak gunung.
Dengan memahami arti bunyi sirine EWS dan mengikuti arahan petugas, masyarakat diharapkan dapat merespons potensi bencana secara cepat dan tepat. Kesiapsiagaan warga menjadi salah satu faktor penting dalam mengurangi risiko korban jiwa saat aktivitas Gunung Semeru mengalami peningkatan.
